Cerita Pendek: Kasih Bukanlah Uang
Dikala sang fajar menyingsing, Naya sudah bangun. Duduk dengan khidmat di meja makan sambil menyantap makanannya dengan malas. Apapun yang ia makan, rasanya semua sama saja. Hambar, tak terasa apapun karena hanya dia sendiri yang memakannya.
Dahulu, keluarga kecil Naya; Ayah, Ibu dan Naya sendiri selalu sempat sarapan bersama dipagi hari. Tapi semenjak perusahaan Ayahnya meningkat, semua berubah. Ayah dan Ibunya selalu sibuk bekerja. Meninggalkan Naya remaja, kesepian.
Naya menatap makanannya dengan sedikit jengah. Dia tidak lapar, tapi dia tahu membuang makanan adalah perbuatan tercela. Jadi dengan sedikit keterpaksaan, Naya mencoba terus memakannya. Baru ketika selesai, Naya pergi ke sekolah dengan menggowes sepeda merah muda kesayangannya.
.....
"Selamat ulang tahun Sayang!" Naya tersenyum. Dia pikir kedua orang tuanya lupa. Ternyata mereka ingat.
"Iya makasih mah, pah. Mama sama Papa hari ini pulang cepet, kan?"tanya Naya antusias. Tapi ketika melihat ekspresi mereka yang berubah. Mendung kembali menggelayut di wajah Naya.
"Maaf Naya. Hari ini kami berdua benar-benar sibuk. Nanti kapan-kapan deh," sesal Tsani, mama Naya.
"Tapi,"
"Tunggu sebentar Naya," Tsani melirik ke samping dan mengacungkan 5 jari sambil berbicara tanpa suara. Dan saat itu Naya tahu, waktunya sudah habis.
"Duh Naya, Mama sama Papa mau meeting. Mama tutup teleponnya ya. Selamat ulang tahun sayang."
Wajah Tsani dilayar Naya menghilang. Naya menatap ponselnya nanar. Andai orang tuanya paham. Naya juga butuh kasih sayang dan uang tidak akan pernah bisa memberikan itu pada Naya.
Naya berusaha tersenyum. Setidaknya orang tuanya sempat membelikannya hadiah. Naya membuka pembungkus kadonya. Namun, perlahan sinar dimatanya kembali meredup. Rinai muncul dimatanya.
Sebuah teleskop bintang yang mirip seperti kadonya di tahun lalu.
Orang bilang, uang adalah segalanya. Tapi, kenapa? Kenapa ketika kita menggenggam banyak uang, semua perlahan hilang?
.....
Naya menggowes sepedanya pelan menuju taman. Hari ini suram, dan dia butuh pembangkit mood. Hanya harumnya bunga dan lezatnya coklat yang bisa membuat perasaannya menjadi lebih baik. Naya melamun, seperti biasanya, ia berandai keluarganya baik-baik saja. Dia lebih suka keluarganya yang dahulu daripada sekarang. Ingin sekali hidupnya seperti Tania. Walau sederhana, tapi kebersamaan keluarganya luar biasa. Naya tersenyum miris. Rasanya itu tidak mungkin.
Naya tepat berada di persimpangan. Terlalu larut dalam lamunannya, Naya tidak menyadari sebuah mobil berbelok ke arahnya. Dan akhirnya menyerempet sisi kanan sepeda Naya. Membuatnya oleng, terjatuh, dan kepalanya terantuk batu.
.......
Naya membuka mata. Disini cerah sekali cuacanya. Hamparan rumputnya begitu luas. Membuat Naya bahagia. Naya berputar-putar. Tertawa bahagia tanpa peduli dirinya berada ditempat antah berantah.
Naya terdiam. Dia mendengar tangis yang tak asing. Itu seperti Mamanya. Naya dapat mendengar kepiluan di suaranya.
"Naya bangun Nak. Maafkan Mama sama Papa. Jangan menghukum kami seperti ini."
Naya menatap sekeliling. Dia tidak melihat siapapun. Dimana Mamanya? Dia harus mencari Mamanya. Dia tidak suka melihat kedua orang tuanya bersedih. Dia tidak suka.
Perlahan sebuah cahaya menyilaukan mata Naya. Semuanya gelap. Tiba-tiba Naya pun terbangun di rumah sakit. Dan melihat Mama dan Papanya dengan mata sembap, terkejut dan bahagia melihat Naya yang telah terbangun.
Terkadang perasaan takut kehilangan dapat membuat manusia kembali ingat, harta berharga yang sesungguhnya
Komentar
Posting Komentar