Emangnya Karya Kita Harus Logis?
Pentingkah kelogisan suatu karya?
Penting, banget malah.
Gak pake nawar lagi, karya kamu memang harus dibuat logis.
Eits, bentar!
Kelogisan masing-masing genre itu beda. Kamu gak bisa menghakimi karya bergenre fantasi dan fiksi ilmiah itu gak logis cuma karena pemerannya punya kemampuan ajaib. Gak boleh dan gak pernah boleh! Kalau kamu asal menghakimi gitu aja, kamu malah keliatan bodoh dalam berkritik. Seperti tong kosong nyaring bunyinya, ngritik orang tapi gak paham dasarnya. Ngerti 'kan?
Dan perlu kalian ketahui bahwa menulis genre fantasi dan fiksi ilmiah itu gak segampang menuang kopi dalam cangkir. Gak segampang dapat khayalan terus langsung dibikin tulisan. Mereka perlu riset yang menurut saya pribadi lumayan belibet. Kalau itu mengenai luar angkasa, mereka harus paham benar sama teori yang berkaitan dengannya. Soalnya kalau salah teori sedikit aja, karya mereka bisa jadi bulan-bulanan kritikus.
Nah, sekarang kita beralih ke genre-genre yang udah umum banget. Yang menyangkut kehidupan sehari-hari. Dan biasanya gampang ditemukan di drama-drama.
Mungkin kalian banyak nih, ngeliat film atau membaca buku apapun itu yang didalamnya bawa-bawa istilah gegar otak. Di situ gegar otak kerap digambarkan sebagai sesuatu yang menakutkan. Creepy! Seremnya ngalahin Valak, sampai-sampai ibu-ibu doyan banget neriakin anak-anaknya. "Jangan loncat-loncatan. Ntar jatoh, geger otak!"
Dikutip dari buku Et Medicina (dipublish di Wattpad), karyanya @andrianchun, disitu dia menjelaskan bahwa gegar otak terjadi ketika otak mengalami cedera ringan tetapi fungsinya secara umum cenderung baik. Tolong dong, pelototin baik-baik kata ringan. Soalnya kasian para ahli kalau baca karya dimana si tokoh koma gara-gara gegar otak. Kasian mereka pusing, karena pasiennya makin sesat gara-gara karya yang kurang riset.
Udah-udah jangan kelamaan baper. Jangan kelamaan nyesek karena selama ini disesatkan sesuatu kayak aku dulu. Mending kita next ke info selanjutnya. Dan info ini yang selalu jadi hal yang melemahkan banyak penulis dan pembaca, nih.
Pernah gak sih, baca novel yang tokohnya menderita penyakit parah banget. Kayak kanker stadium empat ataupun yang lainnya. Pasti sedih banget. Kalau aku baca blurb cerita, terus liat di blurb-nya ternyata si tokoh utama mengalami penyakit serius kayak gitu. Aku langsung tutup bukunya karena aku gak tahan liat ending-nya. Mungkin kalian bertanya-tanya, kenapa sih? Kan belum tentu mati juga?
Gini, nih. Kalau menurut pendapat banyak penulis, ya. Tokoh kayak gitu tuh dengan terpaksa harus ditakdirkan mati. Soalnya seperti yang kalian tahu penyakit serius seperti itu benar-benar sulit disembuhkan. Dan perlu mukjizat yang luar biasa buat sembuh. Rasanya pun kalau dibuat hidup seperti tidak logis. Gimana, ya gimana ya. Udah stadium akhir nih masalahnya. Makanya jangan heran kalau banyak cerita kayak gitu yang sad ending. Kalian perlu mengapresiasi penulisnya, nih. Karena keputusan itu benar-benar berat bagi si penulis sendiri. Apalagi kalau mereka sudah terlanjur sayang sama tokohnya sendiri. Beuh, sakitnya tiada tara, guys. Tepuk tangan yang meriah dong buat mereka. Prok, prok, prok!
Terakhir, saran buat kalian yang mau karyanya jadi logis dan bikin reader kalian makin pinter itu cuma satu.
Yaitu,
RISET! RISET! RISET DAN RISET!
Komentar
Posting Komentar