Resensi Buku: "Di Langit, Ada Bintang"


Identitas Buku


Foto Depan
(Sumber: Gramedia Digital)


Judul Buku : Di Langit, Ada Bintang
Nama Pengarang : Donatus A. Nugroho
Penerbit : Elex Media    Komputindo
Tahun Terbit : 2013
Kota Terbit : Jakarta
Jumlah Halaman : 159 halaman


Sinopsis

1. Bab 1: Pada Sebuah Batas
        Hindi selalu sibuk dengan kegiatannya.          Tetra—kekasih Hindi, mulai merasa lelah mengikuti kegiatan Hindi. Hingga, Tetra sampai pada batas kesabarannya dan  ember Hindi dua pilihan: Tetra atau kesibukannya. Hindi pun dilemma.

2. Bab 2: Semenit Doa Buat Wisesa
        Wisesa, murid kebanggaan sekolah akan menjalani operasi. Seluruh penghuni sekolah membicarakannya. Bahkan pihak sekolah pun mengadakan doa bersama selama satu menit saat operasi Wisesa dilakukan. Audri merasa hal itu berlebihan mengingat operasi yang dilakukan Wisesa adalah operasi kecil. Hingga Audri mengenal Wisesa di rumah sakit dan mengetahui latar belakang Wisesa yang berasal dari keluarga tidak mampu. Diam-diam, Audri membantu Wisesa terbebas dari biaya rumah sakit.

3. Bab 3: Sedapnya Cinta Dia
        Ketika Lena tengah makan siang dengan Atika, dia bertemu dengan Reo, lelaki tampan yang mengaku sebagai sopir. Reo berusaha mendekati Lena. Hal itu membuat Atika meledek Lena. Lambat laun, Lena mulai merasa luluh dengan perlakuan manis Reo. Akhirnya, dia pun mengetahui bahwa Reo adalah mahasiswa yang ingin membiayai kuliahnya sendiri dengan cara bekerja sebagai sopir pribadi ayahnya.

4. Bab 4: Terlalu Manis
        Setelah lulus SMA, Odi pergi ke Amerika dan tetap menjalin hubungan jarak jauh dengan Elita. Kesetiaan Elita pun diuji ketika Odi tak menyuratinya selama delapan bulan dan Utari—sahabatnya, terus memanas-manasinya dengan mengatakan praduga buruk soal Odi. Tak berapa lama, Odi pun kembali ke Indonesia dan berkata bahwa dia memang sengaja ingin menguji kesetiaannya.


5. Bab 5: Tak Seindah Harapan
        Rodam dimintai tolong oleh Gori untuk menarik mikroletnya karena ayahnya sakit dan Gori tak mungkin menggantikannya karena ia tak memiliki SIM. Di tengah perjalanan sebagai sopir, ia bertemu Maya. Rodam mendekati Maya dengan statusnya sebagai sopir mikrolet. Padahal Rodam adalah mahasiswa arsitektur yang terbiasa berangkat menggunakan mobil BMW. Ia pikir Maya tidak tahu identitasnya dan menyukainya apa adanya, tapi ternyata Gori sudah memberitahu Maya identitas Rodam.

6. Bab 6: Peran Terbaik
        Bian meminta tiket acara seminar teater  yang diadakan kampus Nasti. Nasti tentu merasa senang karena ia sudah lama memendam suka dengan Bian. Mereka bertambah dekat dan berangkat ke acara seminar berdua. Di acara itu, Nasti akhirnya tahu bahwa Bian adalah Bunga Jingga, si pembicara dalam acara seminar tersebut. Di akhir cerita, Bian menawarkan Nasti peran sebagai kekasihnya.

7. Bab 7: Ketika Edo Kehilangan Senyum
        Edo cemburu ketika Ina—sahabat yang disukai olehnya, dekat dengan Wawan yang notabenenya adalah murid baru. Hingga Edo mendiamkan Ina. Hal itu membuat Ina sedih dan Edo pun menyadari perasaan Ina untuknya.

8. Bab 8: Yupie
        Luna marah dan mengacuhkan Yupie, anjingnya yang sudah menemaninya sejak kecil. Ia marah karena Yupie selalu berlaku buruk pada Sesar, gebetannya. Hingga akahirnya Yupie mati dan hal itu membuat Luna menyesal.

9. Bab 9: Di Langit, Ada Bintang
        Petra adalah gadis tomboy yang enggan berpacaran. Hingga suatu hari di acara  kejuaraan pencak silat, Petra merasa pesimis bisa menang. Agam pun memberinya semangat dengan kalimat yang Petra anggap sebagai bentuk hinaan. Ketika Petra menang, dia sadar dia salah paham. Ia pun jatuh cinta dengan Agam.

10. Bab 10: Dari Sebuah Sisi Tanpa Batas
        Tigor, Jay dan sahabat yang mereka panggil Setan Gunung diundang Metta ke sebuah café. Sayangnya, Metta takkan bisa menemui mereka dan hanya bisa memandang orang-orang yang punya andil penting di masa lalunya itu dari jauh. Hal itu karena Metta telah meninggal akibat perampokan berdarah di rumahnya.

11. Bab 11: Pada Sebuah Batas
        Ana berteman baik dengan Joe walau jarak rumah mereka amatlah jauh. Diam-diam Ana menyukai Joe tapi ia memendam perasaanya karena Joe sudah memiliki pacar. Melihat betapa dekatnya mereka, Olive—pacar Joe, marah dan melabrak Ana dengan membawa gengnya. Saat itu, Ana pikir bahwa ia lebih pantas berada di sisi Joe daripada Olive.

12. Bab 12: Biarlah Hari Esok
        Vida tengah dirundung kesedihan. Atik—sahabat baiknya yang harus pindah ke Balikpapan, Mama yang harus pergi ke sisi Tuhan dan Andang yang tiba-tiba memutus hubungan mereka. Kesedihan itu mulai hilang ketika ia tahu bahwa Andang tak perlu lagi ia sedihkan karena Andang bukan laki-laki yang baik. Bersamaan dengan itu, Atik membalas telegramnya. Vida pun sadarbahwa ia masih bisa berhubungan baik dengan Atik dan ia bahkan masih memiliki papa yang amat menyayanginya.


Kelebihan dan Kelemahan Buku


1. Kelebihan Buku
        Cerita yang disajikan menarik. Cocok dibaca oleh para remaja ataupun ibu-ibu yang ingin mengingat masa muda mereka karena latar waktu cerita ini belumlah modern. Hal ini karena antalogi cerpen yang diterbitkan oleh Elex Media ini dulunya adalah cerpen-cerpen karya Donatus A. Nugroho yang pernah dimuat dalam Majalah Anita Cemerlang yang eksistensinya telah berakhir sekarang. Diksi yang digunakan Donatus A. Nugroho pun cukup memukau. Beliau menyisipkan banyak pesan tersembunyi disetiap kisah yang ia tulis. Kisahnya cukup menyentuh apalagi pada cerpen Yupie. Beliau sukses menyayat hati saya ketika membaca cerpen tersebut.

2. Kelemahan Buku
        Beberapa kalimat yang digunakan cukup berbelit.  Contohnya pada bagian ‘Angin dingin menusuk tulang.’ Kata menusuk tulang sudah menggambarkan kata dingin sehingga dirasa kalimat tersebut tidaklah efektif. Lalu, ada beberapa penggunaan kalimat yang kurang tepat. Contohnya, ‘Angin dingin menusuk tulang, mengibarkan sebagian ujung rambut Tetra.’ Kalimat tersebut dirasa kurang pas karena kalimat awal menggambarkan angin yang dingin tapi kalimat ‘…, mengibarkan sebagian ujung rambut Tetra’ menggambarkan angin yang kencang. Pada bab Di Langit, Ada Bintang terdapat tulisan asing yang merupakan judul buku yaitu ‘Error Analysis’ tidak tercetak miring sesuai kaidah Ejaan Bahasa Indonesia (EBI). Selain itu, dialog dalam cerpen-cerpen ini terlalu baku, kurang menggambarkan gaya bahasa sehari-hari yang ringan.

Komentar

Yuk, Kepoin yang Lain!

Review: Emina Bright Stuff Moisturizing Cream

[Puisi] Perasaanku yang Bisu

Buat Kamu yang Masih Bingung Dengan Cita-Citamu

5 Aplikasi Gratis Buat Kamu yang Hobi Baca!

[REVIEW] Alasan Kamu Harus Nonton Howl's Moving Castle!

Musikalisasi Puisi (Ada contohnya, guys!)

Moci, Tahu Aci, dan Tari Endel Sebagai Budaya Asli Tegal

[ARTIKEL] PROBLEMATIK SISTEM RANKING DI SEKOLAH

[ARTIKEL] REVIEW NIVEA STRAWBERRY SHINE

Songfiction: Speechless